Kotak Pencarian
×

Hasil Pencarian

Senin, 22 Juni 2026

Juni 22, 2026

Dokter Jantung Kuningan — Belum lama ini dunia lari Indonesia kembali berduka. Seorang peserta dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti ajang maraton, sementara sejumlah peserta lainnya mengalami kolaps dan harus mendapatkan perawatan medis. Setiap kali kejadian seperti ini terjadi, pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah: "Kalau olahraga itu menyehatkan, mengapa masih ada orang yang meninggal saat maraton?"

Sebagai dokter jantung, saya sering menemui pertanyaan serupa. Banyak orang beranggapan bahwa seseorang yang mampu berlari puluhan kilometer pasti memiliki jantung yang sehat. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Maraton bukan sekadar aktivitas lari biasa. Menempuh jarak lebih dari 42 kilometer merupakan tantangan fisiologis yang sangat besar bagi tubuh. Jantung, paru-paru, pembuluh darah, otot, hingga sistem pengaturan suhu tubuh dipaksa bekerja selama berjam-jam. Pada sebagian besar peserta yang berlatih dengan baik, tubuh mampu beradaptasi. Namun pada sebagian kecil orang, maraton dapat menjadi pemicu munculnya masalah kesehatan yang selama ini tersembunyi.

Yang perlu menjadi perhatian, banyak korban yang mengalami kolaps atau bahkan meninggal saat maraton sebelumnya terlihat sehat. Mereka masih aktif bekerja, rutin berolahraga, dan tidak memiliki keluhan yang berarti. Karena itulah masyarakat sering menganggap kejadian tersebut terjadi "secara mendadak".

Padahal dalam banyak kasus, penyebabnya sebenarnya sudah ada jauh sebelum garis start.

Maraton Tidak Menyebabkan Penyakit Jantung

Hal pertama yang perlu dipahami adalah maraton bukan penyebab utama munculnya penyakit jantung.

Penelitian besar dari Race Associated Cardiac Arrest Event Registry (RACER) yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine menganalisis sekitar 10,9 juta peserta maraton dan half-maraton di Amerika Serikat. Penelitian tersebut menemukan 59 kasus henti jantung selama kegiatan. Sebagian besar kasus fatal berkaitan dengan penyakit jantung yang sebenarnya sudah ada sebelumnya tetapi belum terdiagnosis.

Dengan kata lain, maraton malah berperan sebagai "cardiac stress test alami" yang membuka penyakit yang selama ini tidak diketahui.

Dalam praktik sehari-hari, saya tidak jarang menemukan pasien yang merasa dirinya sehat. Mereka masih mampu bekerja, berolahraga ringan, bahkan mengikuti berbagai aktivitas fisik tanpa masalah. Namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata ditemukan penyempitan pembuluh darah jantung yang cukup berat atau kelainan struktur jantung yang sebelumnya tidak pernah disadari.

Tubuh manusia memiliki kemampuan kompensasi yang luar biasa. Karena itu, penyakit jantung dapat berkembang diam-diam selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menunjukkan gejala.

Apa Yang Terjadi pada Jantung Saat Maraton?

Saat berlari jarak jauh, denyut jantung meningkat secara signifikan dan dapat bertahan pada level tinggi selama beberapa jam.

Jantung harus memompa darah lebih cepat untuk mengantarkan oksigen ke otot yang sedang bekerja. Tekanan darah meningkat, kebutuhan oksigen otot jantung meningkat, hormon stres meningkat, dan suhu tubuh terus naik.

Pada jantung yang sehat, kondisi ini umumnya dapat ditoleransi dengan baik.

Namun pada seseorang yang memiliki penyempitan pembuluh darah koroner, gangguan irama jantung, atau kelainan otot jantung, peningkatan beban kerja tersebut dapat memicu komplikasi serius. Aktivitas fisik berat memang diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya henti jantung mendadak pada individu yang memiliki kelainan jantung yang mendasarinya.

Apa Sebenarnya Penyebab Kematian pada Pelari Maraton?

Tanpa pemeriksaan medis lengkap, tidak mungkin memastikan penyebab kematian hanya dari berita atau kesaksian di lapangan. Namun berdasarkan berbagai penelitian kardiologi olahraga, terdapat beberapa penyebab yang paling sering ditemukan.

1. Henti Jantung Mendadak

Dari sudut pandang dokter jantung, inilah penyebab yang paling dikhawatirkan. Henti jantung mendadak terjadi ketika sistem kelistrikan jantung mengalami gangguan sehingga jantung tidak lagi mampu memompa darah secara efektif. Korban biasanya tiba-tiba pingsan, tidak sadar, dan tidak bernapas normal.

Pada pelari usia muda, kondisi ini sering berkaitan dengan kelainan otot jantung, kelainan genetik, atau kelainan bawaan pembuluh darah koroner. Pada usia yang lebih tua, penyebab tersering adalah penyakit jantung koroner. Inilah alasan mengapa seseorang yang tampak sangat sehat tetap dapat mengalami kematian mendadak saat olahraga berat.

2. Serangan Jantung Akut

Serangan jantung berbeda dengan henti jantung mendadak. Serangan jantung terjadi ketika pembuluh darah koroner tersumbat secara mendadak sehingga sebagian otot jantung kehilangan pasokan darah. Saat maraton, peningkatan tekanan darah dan beban kerja jantung dapat memicu pecahnya plak kolesterol yang sebelumnya stabil.

Akibatnya terbentuk bekuan darah yang menyumbat pembuluh koroner dan terjadilah serangan jantung akut. Pada peserta berusia di atas 35 tahun, kondisi ini merupakan salah satu penyebab yang paling sering ditemukan.

3. Heat stroke atau Serangan Panas

Tidak semua kematian saat maraton berasal dari jantung. Pada cuaca panas dan kelembapan tinggi, tubuh dapat mengalami kegagalan dalam mengendalikan suhu inti. Ketika suhu tubuh meningkat terlalu tinggi, berbagai organ mulai mengalami gangguan fungsi.

Heat stroke dapat menyebabkan gangguan kesadaran, syok, gagal ginjal, gangguan pembekuan darah, hingga kegagalan multiorgan. Pada kondisi tertentu, heat stroke juga dapat memicu gangguan irama jantung yang berbahaya. Karena itu, setiap pelari yang kolaps saat lomba harus dievaluasi tidak hanya dari sisi jantung tetapi juga kemungkinan heat stroke.

4. Gangguan Irama Jantung

Sebagian peserta tidak mengalami serangan jantung maupun heat stroke, tetapi mengalami gangguan irama jantung yang fatal. Aritmia seperti ventricular tachycardia atau ventricular fibrillation dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini sering berkaitan dengan penyakit jantung struktural atau kelainan sistem kelistrikan jantung yang belum pernah terdiagnosis sebelumnya.

5. Gangguan Elektrolit Berat

Selama berlari, tubuh kehilangan cairan, natrium, kalium, dan berbagai elektrolit penting lainnya. Gangguan keseimbangan elektrolit dapat menyebabkan kram, penurunan performa, gangguan kesadaran, hingga memicu aritmia yang mengancam nyawa. Meskipun lebih jarang dibanding penyebab lainnya, kondisi ini tetap perlu diperhatikan terutama pada lomba berdurasi panjang.

Di Pada Peran Dokter Jantung?

Setelah setiap kejadian kematian saat olahraga, perhatian biasanya tertuju pada tim medis di garis finis. Padahal dari sudut pandang kardiologi, peran terbesar dokter jantung justru jauh sebelum kegiatan dimulai.

Tugas dokter jantung bukan sekadar menangani serangan jantung ketika sudah terjadi. Tugas yang jauh lebih penting adalah mengidentifikasi risiko sebelum seseorang berdiri di garis start.

Banyak penyakit jantung dapat ditemukan lebih awal melalui skrining yang tepat. Dengan mengetahui kondisi tersebut sejak dini, risiko komplikasi selama olahraga dapat diduga secara signifikan.

Siapa yang Sebaiknya Berkonsultasi ke Dokter Jantung?

Tidak semua pelari membutuhkan pemeriksaan yang lengkap. Namun evaluasi jantung sangat dianjurkan pada:

  • Pelari berusia di atas 35 tahun.
  • Memiliki riwayat hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi.
  • Memiliki riwayat merokok.
  • Memiliki anggota keluarga yang meninggal mendadak pada usia muda.
  • Pernah mengalami nyeri dada saat olahraga.
  • Pernah pingsan atau hampir pingsan saat beraktivitas fisik.
  • Merasakan jantung berdebar tidak beraturan saat latihan.

Kelompok inilah yang berpotensi mendapatkan manfaat terbesar dari skrining jantung sebelum mengikuti lari jarak jauh.

Pemeriksaan Apa yang Dapat Dilakukan?

Evaluasi biasanya dimulai dari wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Selanjutnya dokter dapat mempertimbangkan beberapa pemeriksaan seperti:

  • EKG (Elektrokardiogram): untuk mendeteksi gangguan sistem kelistrikan dan irama jantung.
  • Echocardiography (USG Jantung): untuk menilai struktur dan fungsi jantung, termasuk kelainan katup maupun penebalan otot jantung.
  • Treadmill Test: untuk melihat respons jantung terhadap aktivitas fisik dan mendeteksi kemungkinan penyakit jantung koroner yang belum menimbulkan gejala.

Tidak semua orang membutuhkan seluruh pemeriksaan tersebut. Pemilihannya disesuaikan dengan usia, faktor risiko, serta target aktivitas olahraga masing-masing.

Menyelesaikan Maraton Bukanlah Tujuan Utama

Budaya olahraga lari saat ini sering menekankan pencapaian: berapa kilometer yang ditempuh, berapa pace yang dicapai, atau berapa personal best yang berhasil dipecahkan. Semua itu tentu baik. Namun tujuan utama olahraga sebenarnya jauh lebih sederhana, yaitu menjaga kesehatan dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, persiapan menuju maraton seharusnya tidak hanya berisi program latihan, strategi nutrisi, atau pemilihan sepatu. Pemeriksaan kesehatan, termasuk kesehatan jantung, juga merupakan bagian penting dari persiapan tersebut.

Banyak orang berlatih berbulan-bulan untuk mempersiapkan otot dan paru-parunya menghadapi maraton. Namun sering kali mereka lupa memastikan apakah jantungnya telah siap untuk tantangan yang sama.

Dan di sinilah peran dokter jantung: membantu menemukan risiko lebih awal, sebelum seseorang berdiri di garis start.


Ditinjau secara medis oleh:
dr. Rizki Davi Akbar, Sp.JP, FIHA
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Sumber Referensi:

  • Kim JH, Malhotra R, Chiampas G, et al. Cardiac Arrest During Long-Distance Running Races. New England Journal of Medicine. 2012;366:130-140.
  • Wasfy MM, Hutter AM, Weiner RB. Sudden Cardiac Death in Athletes. Sports Health. 2016.
  • Kim JH, et al. A Contemporary Review of Sudden Cardiac Arrest and Death in Competitive and Recreational Athletes. The Lancet. 2024.
  • European Society of Cardiology. How Do You Prevent Sudden Death During Sports Activities?
  • Kim JH, Malhotra R, Chiampas G, et al. RACER Study Group. Analisis lanjutan mengenai insiden henti jantung pada maraton dan half-maraton.
Next
This is the most recent post.
Posting Lama

0 comments:

Posting Komentar